Diversifikasi Bisnis Jadi Cara Sukanto Tanoto Hadapi Krisis


Sumber: sukantotanotobiography.com

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998 meninggalkan luka yang begitu dalam. Tidak sedikit pelaku usaha yang menanggung hutang yang begitu besar hingga terpaksa menutup bisnisnya. Hal ini juga dialami oleh sang pendiri grup Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto.

Meski pada saat itu Royal Golden Eagle bukan lagi menjadi grup bisnis kecil, dampak dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia ternyata tetap terasa. Kondisi perekonomian yang sulit membuat grup bisnis yang dipimpin Sukanto Tanoto tersebut harus menanggung hutang hingga menutup salah satu perusahaannya. Demi tetap bertahan, Sukanto Tanoto pun menerapkan strategi diversifikasi yang lebih canggih. 

Apa Itu Diversifikasi Bisnis

Istilah diversifikasi sangat erat kaitannya dengan dunia bisnis dan investasi. Dalam dunia bisnis, diversifikasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menambah ragam produk ataupun lokasi perusahaan guna memaksimalkan keuntungan sekaligus memecah risiko.

Bentuk nyata dari diversifikasi bisnis sendiri bisa sangat beragam. Misalnya saja seperti menambah jenis produk hingga menambah bidang usaha. Dalam industri padat karya, diversifikasi juga bisa membantu mengurangi beban biaya operasional secara signifikan.

Sebagai contoh saat seorang pelaku usaha melakukan diversifikasi dengan membangun pabrik baru di tempat yang berbeda, ia berpotensi mendapat banyak keuntungan dari situ. Salah satunya adalah terbukanya peluang untuk mendapatkan konsumen baru.

Membuka pabrik baru di lokasi yang berbeda juga berpotensi mengurangi beberapa biaya. Misalnya saja seperti biaya distribusi barang. Jika lokasi pabrik baru juga cukup dekat dengan penyedia bahan baku, biaya produksinya juga bisa sedikit ditekan.

Dengan melakukan diversifikasi bisnis, pelaku usaha juga bisa memecah risiko hingga pada tingkat yang bisa ditangani oleh perusahaan. Misalnya jika ada pabrik yang bermasalah dan sulit mencetak keuntungan, pabrik lain yang kondisinya lebih baik bisa menjadi penyeimbang. Dengan mempertimbangkan hal-hal seperti inilah, Sukanto Tanoto menerapkan strategi diversifikasi yang lebih luas demi bertahan dari krisis. 

Diversifikasi Bisnis Sukanto Tanoto

Sebelum krisis ekonomi melanda pada tahun 1998, grup bisnis yang dibangun oleh Sukanto Tanoto masih berfokus pada wilayah Indonesia. Pabrik-pabrik dibangun di beberapa wilayah di tanah air. Karena itulah, semua unit bisnis Royal Golden Eagle ikut terdampak krisis.

Pada saat itu, Sukanto Tanoto dan grup bisnis yang dipimpinnya bahkan sempat berhutang hingga Rp 2,1 triliun. Bahkan salah satu perusahaannya yang bernama PT Inti Indorayon Utama terpaksa ditutup di tahun 1999.

Agar bisa tetap bertahan dan membalikkan keadaan, Sukanto Tanoto menerapkan strategi diversifikasi yang lebih luas. Jika sebelumnya pabrik-pabrik yang berada di bawah naungan Royal Golden Eagle berfokus pada wilayah Indonesia, ia memperluasnya hingga ke beberapa negara. Provinsi Jiangxi, Cina adalah salah satu kawasan yang menjadi incaran Sukanto Tanoto kala itu.

Saat beberapa negara di Asia dilanda krisis, Sukanto Tanoto melihat adanya peluang bisnis dalam bidang viscose rayon. Peluang tersebut langsung disambut. Namun bukan dengan membangun pabrik di Indonesia. Ia membangun pabrik rayon di provinsi Jiangxi, Cina.

Diversifikasi yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto tidak berhenti di situ saja. Ia juga melebarkan sayap bisnisnya ke negara Brazil. Di negeri samba, ia mengakuisisi perkebunan eucalyptus. Langkah ini pun berlanjut dengan dibukanya pabrik pulp.

Beberapa industri baru dimasuki Sukanto Tanoto. Royal Golden Eagle pun semakin berkembang dengan sektor bisnis yang semakin beragam. Beberapa sektor bisnis tersebut meliputi industri minyak sawit, pulp dan kertas, rayon viskosa hingga industri minyak dan gas.



0 komentar:

Posting Komentar